Wednesday, March 17, 2010

Melotoni Pengaruhi Pola Tidur Remaja

jangan tergesa-gesa mengecap anak remaja Anda pemalas atau bodoh jika mereka sering mengantuk saat menerima pelajaran di sekolah pada pagi hari kenapa?

Remaja tampaknya masih menjadi kajian sains menarik. selain soal seks, banyak hal lain yang bisa digali dari individu yang terus berubah ini. Salah satunya adalah yang dilakukan Suzanne Warner, profesor dari Universitas Swineburne di Hawthorn, Australia. Bersama dua koleganya, Suzanne mencoba memberikan jawaban atas perilaku remaja yang malas masuk sekolah pada pagi hari.

Dalam penelitian itu, Suzanne membandingkan pola tidur 310 remaja saat masuk sekolah dengan dan saat mereka libur. Ternyata, saat libur, remaja tidur lebih dari sembilan jam. Sementara saat sekolah, rata-rata mereka tidur kurang dari delapan jam.

Dari penelitian ini, kita tentu bisa dengan mudah menjawab, tentu saja remaja malas sekolah pagi karena kurang tidur. Bagusnya, penelitian Suzanne tidak hanya menjawab itu. Suzanne menggali lebih jauh dengan mempertanyakan apa yang membuat pola tidur remaja itu berbeda saat libur dan masuk sekolah.

Kuncinya adalah melotonin, sebuah hormon yang memberikan tanda ke otak jika tubuh membutuhkan istirahat dan tidur. Melotonin ini pula yang menjadi bagian utama dari apa yang disebut jam circadian atau jam biologis.

Jam biologis ini didapatkan mulai bakteri hingga manusia. Jam ini mengatur aktivitas selama 24 jam penuh, termasuk waktu tidur dan makan. Dari penelitian itu didapatkan bahwa saat fase pubertas alias remaja, melotonin dilepaskan makin lama semakin malam. Artinya, remaja semakin kuat begadang dan kuat tidur.

Berdasarkan penelitian terbaru, remaja bisa mendapatkan kondisi optimal jika telah tidur selama sembilan jam. "Dari penelitian itu, saat masuk sekolah, remaja dipaksa tidur mundur satu jam dan bangun rata-rata 2,5 jam lebih awal dari jam biologis mereka," ujar Suzanne.

Akibat jam biologis ini, remaja akan malas bangun pagi, apalagi memberikan perhatian pada pelajaran. Dalam penelitian yang dilakukan Suzanne, didapatkan bahwa remaja berada dalam kondisi terbaik mereka untuk memberikan perhatian pada saat siang hari hingga petang.

"Mereka akan memberikan perhatian penuh saat itu," lanjutnya.

Suzanne menambahkan, remaja yang dipaksa mengubah jam biologisnya akan membawa dampak yang signifikan. Salah satunya adalah mereka berprestasi lebih jelek di sekolah dan lebih sering merasa tertekan atau tidak bahagia.

Jam biologis ini dipengaruhi faktor genetis dari orangtuanya. Berdasarkan penelitian, setidaknya ada dua tipe. Pertama, yang suka tidur malam dan bangun siang, dan kedua tidur lebih awal dan bangun pagi. Sayangnya, dalam penelitian ini, Suzanne lebih banyak menemukan tipe pertama pada remaja.

Meski dipengaruhi faktor genetis, Suzanne menambahkan bahwa faktor lingkungan tidak bisa dilepaskan begitu saja. Tingkat cahaya yang tidak jelas membuat melotonin akan lebih lama untuk dilepaskan. Itu berarti makin kuat begadang.

Atas dasar itu, Suzanne menyarankan, sekolah sebaiknya dimulai paling cepat pukul sembilan pagi. Kedua, dia menyarankan agar mempercepat proses istirahat remaja. Lampu atau cahaya dibiarkan konstan redup selama satu jam sebelumnya.

"Kalau sekolah masuk lebih pagi, tanyakan apakah mereka sudah siap atau belum," pungkasnya.

No comments:

Post a Comment